Pragmatisme sebagai suatu gerakan dalam filsafat lahir pada akhir abad ke-19 di Amerika. Karena itu sering dikatakan bahwa pragmatisme merupakan sumbangan yang paling orisinal dari pemikiran Amerika terhadap perkembangan filsafat dunia. Pragmatisme lahir untuk menjembatani dua kepentingan yang berbeda, yaitu pertentangan yang terjadi antara “yang spekulatif” dan “yang praksis”. Tradisi pemikiran yang spekulatif bersumber dari warisan filsafat rasionalistik Descartes dan berkembang melalui idealisme kritis dari Kant, idealisme absolut Hegel serta sejumlah pemikir rasionalistik lainnya. Warisan ini memberikan kepada rasio manusia kedudukan yang terhormat kerena memiliki kekuatan instrinsik yang besar. Warisan ini pulalah yang telah mendorong para filsuf dan ilmuwan-ilmuwan membangun teori-teori yang mengunakan daya nalar spekulatif rasio untuk mengerti dan menjelaskan alam semesta.
Akan tetapi, di pihak lain ada juga warisan pemikiran yang hanya begitu menekankan pentingnya pemikiran yang bersifat praksis semata (empirisme). Bagi kelompok ini, kerja rasio tidak terlalu ditekankan sehingga rasio kehilangan tempatnya. Rasio kehilangan kreativitasnya sebagai instrumen khas manusiawi yang mampu membentuk pemikiran dan mengarahkan sejarah. Hasil dari model pemikiran ini yakni munculnya ilmu-ilmu terapan. Termasuk di dalamnya yakni Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, secara filosofis, pragmatisme berusaha untuk menjebatani dua aliran filsafat tradisional ini. Atas salah satu cara pragmatisme menyetujui apa yang menjadi keunggulan dari empirisme. Hal-hal itu seperti:
1. Bahwa kita tidak pernah memiliki konsep yang menyeluruh tentang realitas
2. Pengetahuan mengenai obyek-obyek material bersumber dari persepsi dengan perspektif yang berbeda-beda,
3. Dibutuhkan pemahaman multidimensi atau memerlukan pemahaman pluralitas. Jadi pemahaman komprehensif mesti dilihat dalam pluralitas.
Selain sependapat dengan empirisme untuk beberapa hal di atas, pragmatisme juga sependapat dengan tradisi rasionalisme dan idealisme dalam hal keseluruhan nilai hidup, terutama moralitas dan agama memberi makna untuk hidup manusia.
Melihat apa yang ingin dijembatani ini, pragmatisme mengangkat nilai-nilai positif yang ada pada kedua tradisi tersebut. Prinsip yang dipegang kaum pragmatis yakni: tidaklah penting bahwa saya menerima teori ini atau itu; yang penting ialah apakah saya memiliki suatu teori atau nilai yang dapat berfungsi dalam tindakan.
II. BIOGRAFI JOHN DEWEY
John Dewey lahir di Burlington, Vermont tanggal 20 oktober 1859. Ia adalah seorang filosof, psikolog amerika, pendidik, kritikus sosial dan politikus.Diwaktu muda, ia dikenal sebagai sosok pemalu. Meskipun bukan pelajar yang brilian, dewey rajin membaca buku. Menyelesaikan study di Universitas Minnesota tahun 1879. Selepas itu, ia mengajar ilmu klasik dan aljabar di Universitas tersebut. Meski sejak awal dewey tertarik pada filsafat dan pemikiran sosial, namun ia tidak memastikan karirnya dalam bidang filsafat.
Setelah menyelesaikan program doktor di Universitas John Hopkins tahun 1884 dengan disertasi mengenai Psikologi Kant, ia mengajar selama sepuluh tahun di universitas Michigan.
Selama di Michigan, Dewey merasa tidak puas dengan spekulasi murni dan ingin membuat pemikiran filsfat murni yang langsung berhubungan dengan urusan-urusan praktis manusia. Selain itu, ia juga mengajar di universitas Minnesota. Ia menjabat sebagai departemen filsafat dari tahun 1894-1904 di universitas Chicago. pemimpin Ia kemudian mendirikan Laboratory School yang kelak dikenal dengan nama The Dewey School. Di pusat penelitian ini ia pun memulai penelitiannya mengenai pendidikan di sekolah-sekolah dan mencoba menerapkan teori pendidikannya dalam praksis sekolah-sekolah. Hasilnya, ia meninggalkan pola dan proses pendidikan tradisional yang mengandalkan kemampuan mendengar dan menghafal. Sebagai ganti, ia menekankan pentingnya kreativitas dan keterlibatan murid dalam diskusi dan pemecahan masalah. Selama periode ini pula ia perlahan-lahan meninggalkan gaya pemikiran idealisme yang telah mempengaruhi sejak pertemuan dengan Morris. Pada tahun 1904 ia pergi ke Universitas Columbia menjadi staf pengajar disana hingga tahun 1930.
III. MAKNA PRAGMATISME
Makna pragmatisme berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia antaralain:
1. bersifat praktis dan berguna bagi umum; bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan (kemanfaatan); mengenai atau bersangkutan dng nilai-nilai praktis
2. kepercayaan bahwa kebenaran atau nilai suatu ajaran (paham, doktrin, gagasan, pernyataan, ucapan, dsb), bergantung pd penerapannya bagi kepentingan manusia
3. paham yg menyatakan bahwa segala sesuatu tidak tetap, melainkan tumbuh dan berubah terus
4. pandangan yg memberi penjelasan yg berguna tt suatu permasalahan dng melihat sebab akibat berdasarkan kenyataan untuk tujuan praktis
Pragmatisme berasal dari bahasa yunani “pragma” yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme merupakan aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.
Pragmatisme berpandangan bahwa substansi adalah jika segala sesuatu memiliki fungsi dan manfaat dalam kehidupan. Sehingga sifat kebenaran menurut paham pragmatisme menjadi relatif. Karena bisa jadi sesuatu hal dapat lebih baik atau bermanfaat pada suatu masyarakat namun menjadi tidak bermanfaat bagi masyarakat yang lain. misalnya menjadi seorang guru adalah kebenaran, jika mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, kanikmatan intelektual, gaji,atau apapun yang bernilai kuantitatif ataupun kualitatif. Namun sebaliknya jika menimbulkan kesengsaraan, kemudharatan maka ia tidak bisa dikatakan sebagai kebenaran.
IV. PRAGMATISME DAN JOHN DEWEY
Secara teoretis, gerakan pragmatisme berawal dari upaya formulasi yang dilakukan oleh Charles Sanders Peirce, meskipun kemudian pragmatisme dikembangkan oleh William James. Secara metodologis, pragmatisme akhirnya berhasil diserap oleh bidang-bidang kehidupan sehari-hari Amerika Serikat berkat kerja keras John Dewey. Dewey memusatkan perhatiaanya pada masalah-masalah yang menyangkut etika, pemikiran sosial dan pendidikan. Memang ada begitu banyak pandangan-pandangan para filsuf yang berhubungan dengan bidang pragmatisme ini, akan tetapi ketiga tokoh di atas yang populer dan banyak dibicarakan dalam pengembangan pragmatisme. Peirce dipandang sebagai penggagas pragmatisme, James sebagai pengembangnya dan Dewey sebagai orang yang menerapkan pragmatisme dalam pelbagai bidang kehidupan
Menurut Dewey tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak boleh larut dalam pemikiran metafisis yang kurang praktis dan tidak ada manfaatnya. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara kritis.
Menurutnya tidak ada sesuatu yang tetap. Manusia selalu bergerak dan berubah-ubah. Jika mengalami kesulitan manusia selalu berfikir, karena dengan berpikir akan menghasilkan cara-cara yang masuk akal untuk mengubah situasi. Melalui berpikir manusia akan menemukan solusi atau jalan keluar. Oleh karena itu pikiran merupakan instrumen untuk bertindak.
Menurut Dewey manusia adalah wujud yang bertindak, menderita, dan menikmati kebanyakan hidupnya terdiri dari pengalaman yang belum reflektif. Adakalanya situasi yang memuaskan menjadi situasi yang problematis dan tidak memuaskan, sehingga timbal balik itu akan terus terjadi.
Karena itu bagi dewey, pengetahuan hanya merupakan alat (instrumen) untuk membuat kehidupan dan dunia tempat kita tinggal menjadi lebih baik .
V. PENGARUH TOKOH-TOKOH TERDAHULU TERHADAP PEMIKIRAN JOHN DEWEY
Pandangan Filsafat Metafisika John Dewey terbentuk karena mendapat pengaruh dari tokoh-tokoh pendahulunya seperti Hegel, Darwin dan James. Filsafat Hegel yang menarik bagi Dewey adalah bukan pada ied-ide secara detail namun pada sentralnya, yakni ide mengenai keteraturan dan kesatuan ditengah-tengah perbedaan. Dualisme radikal yang mengganggu filsafat dan melemparkannya dalam suatu kebingungan, seperti dualisme antara realitas (reality) dan penampakan (appearence),antara pikiran (mind) dan materi (matter),hanyalah akibat dari proses abstraksi dari aspek-aspek berbeda yang sebenarnya berasal dari sebuah realitas yang tunggal. Ide tentang kesatuan ini kemudian tetap menyertai filsafatnya.
Dewey merupakan generasi pertama yang merasakan pengaruh teori Darwin. Pada saat itu teori Darwin tidak hanya berlaku pada bidang biologi tetapi juga memasuki bidang filsafat.Teori darwin telah meruntuhkan otoritas kitab suci yang menyatakan bahwa spesies itu tetap dan tidak berasal dari sebab-sebab alami, namun berasal dari ciptaan Tuhan. Dalam teori darwin dikatakan bahwa spesies itu tidak tetap dan terpisah tetapi berhubungan satu sama lain melalui prose evolusi dari bentuk-bentuk yang lebih awal, bukan oleh penciptaan Tuhan. Dengan demikian, hal-hal supranatural menjadi hilang dan yang tetap adalah dunia natural, sebuah sistem tunggal yang berubah terus menerus. Sebagaimana filsafat Hegel, Dunia dilihat sebagai sebuah proses yang berkembang terus menerus (a developing process). Inilah pandangan dunia yang diekspresikan Dewey.
Lalu apa yang mempengaruhi Dewey dari filsafat alam karya besarnya, James dengan cemas menunjukkan bahwa pikiran itu bersifat aktif terhadap dunia. Dalam hal ini ia adalah lawan dari empirisme tradisional yang menyajikan pengetahuan atau kepercayaan sebagai sebuah akibt mekanis dari kekuatan-kekuatan luar. Sedangkan James menganalisis pengetahuan atau kepercayaan sebagai ciri-ciri aktivitas pribadi secara keseluruhan dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tujuannya (in pursuit of his needs and pupose).Dalam pandangan Dewey, inilah penyajian pikiran menurut model fungsional atau biologis. Ide-ide semacam inilah yang yang dijadikan asumsi dasar bagi dewey untuk membangun sebuah pandangan baru.
Menurut Dewey, Dunia sedang dalam penciptaan terus menerus. Dewey benar-benar menekankan evolusi, reletivitas, dan proses waktu dalam pandangan dunianya. Dunia tempat kita hidup seakarang adalah dunia yang belum selesai (an unfinished world). Kata kunci ini dapat dimengerti dengan baik ketika dihubungkan dengan tiga aspek dari instrumentalisme. Temporalisme, futurisme, dan meliorisme. Temporalisme berarti bahwa ada gerak dan kemajuan riil dalam waktu. Futurisme adaalah melihat masa depan , dan bukan masa lalu. Sedang Meliorisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa dengan berbagai upaya dunia ini bisa kita buat menjadi lebih baik.
VI. PENUTUP
John Dewey selain menjadi seorang filosof, ia turut andil dalam bidang politik, psikologi dan pendidikan. Ia telah membangun sebuah sistem filsafat dan keilmuan yang lebih membumi dengan cara menarik filsafat yang terasa mengawang-awang dan menariknya kembali ke bumi. Inilah alasan mengapa pemikiran Dewey mudah diterima dan turut memberikan kontribusi pada banyak bidang.