Monday, February 16, 2015

Kurikulum oh kurikulum




Berawal dari Kurikulum 1947 kemudian ke kurikulum 1952 atau Rentjana Pelajaran 1952 
Lanjut dengan kurikulum 1964 yaitu Rentjana Pendidikan 1964 yang disempurnakan lagi dengan kurikulum 1968. Pada tahun1975 lahirlah kurikulum 1975 yang menekankan pada tujuan,agar pendidikan lebih efisien dan efektif. Tak berapa lama kemudian lahirlah kurikulum 1984 sebagai penyempurnaan dari kurikulum 1975, yang terkenal dengan kurikulum CBSA yang diplesetkan dengan Catat Bahan Sampai Abis. Tahun 1994, kurikulum 1994 hadir dengan segala problematikanya yang menjadikan kurikulum ini menjadi kurikulum yang super padat. Lalu lanjut kembali di tahun 2004,kurikulum 2004 hadir, sebagai kurikulum uji coba,berakhir dengan banyak kegagalan sebagai uji coba Kurikulum Berbasis Kompetensi. Pada awal 2006, Kurikulum 2004 dihentikan lalu digantikan dengan kurikulum 2006, yang memberikan ruang segar kepada dunia pendidikan di Indonesia. Tak berselang lama muncul kurikulum 2013 di tahun 2013 yang memberikan beban berlebih kepada anak didik dan guru yang mengajar. 2014, selepas pergantian pemerintahan yang baru, kurikulum 2013 dihentikan dan kembali menggunakan kembali 2006. hmmm, semoga tidak perlu kembali menggunakan kurikulum yang lebih lama lagi atau pergantian kurikulum pendidikan yang tidak manusiawi bagi semua masyarakat Indonesia.

Sekolah Itu Seharusnya (Bisa) Memanusiakan



Salam Perubahan ..........

Selamat Pagi, Sudah Sekolah hari ini?
Oh, kenapa cemberut?
Ternyata tidak semua menyambut dengan penuh semangat
Oke,kalau begitu, bisakah katakan ada apa atau apa yang terjadi dengan "sekolah"?

Ah, begitu rupanya !
Sekolah itu bisa menjadi "kecelakaan" oleh sebagian pribadi,tetapi diam-diam bersembunyi di dalam hati.
Sekolah itu menjadi candu dari ritual masyarakat, tak bersekolah maka bersiaplah dicap dengan stigma negatif oleh sosial sekeliling kita.

Oke,tapi tahukah engkau makna mendasar dari sekolah?
Jauh, sebelum masa kita ini, di era masa keemasan yunani tepatnya.
Pada masa itu orang-orang Yunani mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat atau kepada orang yang mereka anggap pandai untuk bertanya atau belajar tentang sesuatu hal yang mereka rasakan perlu dan dibutuhkan dalam kehidupan sosial.
Kegiatan itu mereka namakan Scolae atau Schola yang mempunyai arti "waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar" ( leisure devoted to learning).
Pelan tapi pasti kegiatan itu tidak hanya diikuti oleh kaum lelaki saja,kaum perempuan juga mendapatkan hak-hak mereka untuk belajar,secara sistem sosial terbentuklah suatu wadah kegiatan belajar yang muncul karena perkembangan zaman,dimana orang tua tidak mempunyai cukup waktu untuk mengajar putra putrinya,sehingga dirasa perlu menitipkan ke suatu tempat dimana putra putri mereka dapat belajar dengan baik.
Di tempat itulah anak-anak bisa bermain, berlatih melakukan sesuatu, belajar apa saja yang mereka anggap memang patut untuk dipelajari, sampai tiba saatnya kelak mereka harus pulang ke rumah menjalankan kehidupan  orang dewasa sebagaimana lazimnya.
Nah, itulah sejarah dari makna sekolah,terlepas dari tetek bengek aneka peraturan dan definisi dalam kurikulum pendidikan kita saat ini.
Sekolah itu menyenangkan kan?
Astaga, masih bermuram durja!

Oke,baiklah!
Sekolah itu bukan hanya sekadar tempat untuk menyelesaikan ritual sosial dan ritual pendidikan saja.
Sekolah itu bukan hanya tempat untuk mendapatkan ijazah.
Sekolah itu bukan hanya untuk mendapatkan nilai baik dan tertinggi.

Sekolah itu adalah tempat untuk belajar.
Belajar mengenai berbagai mata pelajaran.
Belajar mengenai kehidupan sosial dan kehidupan.
Belajar memperoleh ilmu dan pengetahuan baru
Terpenting adalah sekolah merupakan tempat bersenang-senang yang sangat menyenangkan.
Walau dilalui dengan penuh perjuangan dan berbagai kegagalan,tetapi ia adalah tempat yang tepat untuk bersenang-senang untuk belajar menjadi manusia yang beradab.

Lupakan beban kalian untuk memperoleh nilai yang baik atau tinggi.
Lupakan aksi contek-mencontek untuk memperoleh jawaban yang benar saat ujian.

Having fun!,bersenang-senanglah di sekolah, jadikan sekolah sebagai kegiatan rutin yang menyenangkan! 

Guru = Manusia Juga

       
        Berbicara tentang sistem pendidikan bangsa ini, tentu takkan terlepas dari apa yang disebut dengan guru. Guru berperan dan berfungsi dengan sangat dominan di area pelaksanaan pendidikan. Berbahagialah jika sistem pendidikan nasional semestinya menjadi acuan yang diharapkan adil dan membentuk karakter terbaik untuk masa depan bangsa ini.
         Tetapi lihatlah, tidak perlu terlalu jauh melihatnya, cukup di lingkungan sekitar kita saja, apakah benar guru sebagai insan yang dihormati itu sudah cukup layak untuk hidup?
Tidak saja cukup penghargaan akreditasi yang dalam prosesnya hampir bisa membuat gila dan menjadi manusia apatis,hanya untuk sekedar lulus proses sertifikasi!.
Tidak saja cukup menjadi guru PNS yang diganjar dengan gaji dan tunjangan cukup membuat tersenyum,walau entah berapa besar pajak yang dikenakan kepada rakyat sendiri, tetapi lebih baik daripada terpaksa utang keluar negeri agar bisa membayar gaji PNS.Terlalu!.
Tidak saja menjadi showroom berjalan untuk para pelaku usaha, naik gaji maka ganti juga penampilan,entah motor baru,mobil baru,laptop baru,rumah baru,baju baru, semoga bukan suami atau istri baru :). Bahagialah para pelaku usaha itu, bayangan keuntungan sudah di depan pelupuk mata.
Tidak saja cukup penghargaan sosial dan derajat sosial yang didapat karena pandangan masyarakat, bahwa guru adalah profesi yang mulia, mempunyai dedikasi yang tinggi, mempunyai jenjang pendidikan yang lebih baik.
Tidak saja cukup dengan harapan bahwa pensiun di kemudian hari akan mempunyai hari-hari yang indah dengan sejumlah tanda terima kasih dari pemerintah setiap bulannya, tentunya berharap tidak ada potongan pajak dan biaya siluman untuk dana pensiunnya,semoga saja :).

Tetapi ada syaratnya !!!